Resmi Ditutup, Bandara Paling Mengerikan di Dunia

http://www.didunia.net/
Bandara Paling Mengerikan di Dunia
 Quito - Berada di dataran tinggi dan landasan yang sempit membuat Bandara Mariscal Surce di Quito Ekuador sebagai yang paling mengerikan di dunia di mata wisatawan. Tapi Februari ini, bandara itu akan ditutup dan dipindahkan.

Rencananya, Tababela akan dijadikan lokasi pemindahan bandara. Letaknya sekitar 20 km di luar pusat kota. Ini dilakukan untuk menghindari lebih banyak kecelakaan pesawat.

Bandara baru ini telah dibangun dan disiapkan untuk menangani 290 penerbangan setiap hari. Dari pusat kota, penumpang bisa mencapai bandara dengan lama waktu 90 menit.

Pengganti Bandara Mariscal Surce ini akan memiliki landasan pacu lebih panjang 1.000 meter dari bandara lama. Ini dilakukan untuk menanggapi masalah pesawat yang sering mendarat melewati landasan. Inilah salah satu penyebab kecelakaan yang sering terjadi di Bandara Mariscal Surce.

Menurut pejabat kota, bandara baru bisa melayani penerbangan antar benua. Keberadaannya juga membuat penerbangan di Ekuador lebih aman. Namun, banyak pilot yang meragukan kalau keberadaan bandara ini membawa manfaat keamanan yang signifikan.

"Pilot tidak menyetujui. Bandara berada di lembah sangat rumit," kata Stephano Rota, seorang pilot perusahaan. 

Bandara Internasional Mariscal Sucre sudah lama terkenal di dunia, sebagai bandara dengan jalur penerbangan yang sulit dan berbahaya. Dalam 30 tahun terakhir, bandara ini telah mengakibatkan 9 kecelakaan fatal.

Bandara Mariscal Sucre terletak di Quito, ibukota dari Ekuador. Bandara ini dibangun pada tahun 1960. Selama bertahun-tahun bandara ini berada di tengah pemukiman warga.

Saat pertama kali bandara dibuka, hanya sekitar 350.000 orang yang tinggal di Quito. Tapi kini, populasi sudah berkembang dan mencapai angka 2,2 juta orang yang tinggal di sekitar bandara. Artinya, bandara ini terletak di tengah-tengah pemukiman jutaan orang.

"Bandara ini mungkin masuk dalam 5 bandara paling sulit di Amerika Latin," kata salah seorang pilot, Stephano Rota.

Landasan sempit dan pegunungan di dekatnya juga memaksa pilot untuk bekerja keras untuk menerbangkan dan mendaratkan pesawat. Bandara ini juga terletak di ketinggian hampir 2.850 mdpl, dan membuat oksigen menjadi menipis. Sehingga, hal itu dapat menganggu kinerja pesawat saat lepas landas atau mendarat. Hal tersebut pun juga membuat cemas para penumpang.

Bandara ini sekarang memiliki rata-rata 220 penerbangan sehari, dan dimampiri 10 juta penumpang per tahun. Pesawat yang akan mendarat di bandara ini pernah menabrak bangunan yang berada di sekitarnya.

Pada tahun 1984, pernah terjadi 4 kali tabrakan dan menewaskan 135 orang. Bencana lain telah disebabkan oleh kesalahan navigasi yang menyebabkan pesawat terjun ke sisi gunung berapi.

0 komentar:

Posting Komentar